Tanda-tanda Godzilla El Niño Semakin Nampak, Solusi Iklim di Hulu Harus Jadi Prioritas

Siaran Pers
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)

Perkembangan kondisi iklim global menunjukkan tanda-tanda menguatnya fenomena El Niño ekstrem atau yang dikenal sebagai “Godzilla/Super El Niño” di kawasan Samudera Pasifik. Rilis yang dikeluarkan oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) (14/05/2026) menunjukkan bahwa El Niño akan segera muncul pada Mei-Juli 2026 dengan peluang terjadi sebesar 82%. Sejumlah pemantauan suhu permukaan laut juga memperlihatkan anomali panas yang terus meningkat di wilayah Pasifik tengah dan timur, yang berpotensi memicu dampak cuaca ekstrem di berbagai negara, termasuk Indonesia.

BMKG sendiri mempredisksi El Niño mulai aktif pada Juni 2026 dengan intensitas moderat hingga kuat. Sementara sebagian besar wilayah Indonesia mengalami puncak kemarau pada Agustus-September 2026.

“Fenomena ini tidak bisa dipisahkan dari krisis iklim global yang semakin nyata akibat model pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam yang rakus. Sejumlah kajian menunjukkan bahwa bencana dan cuaca ekstrem yang dulu dianggap langka kini terjadi semakin sering—dari yang sebelumnya berulang dalam rentang 100-200 tahun, kini dapat muncul hanya dalam siklus 20-50 tahunan. Situasi ini menegaskan bahwa krisis yang dihadapi bukan lagi sekadar anomali alam, melainkan konsekuensi sistemik dari krisis ekologis yang terus diproduksi dan dibiarkan berlangsung”, kata Patria Rizky Ananda, Pengkampanye Iklim dan Isu Global WALHI.

Lihat juga, Godzilla El Nino: Kekeringan dan Ancaman Krisis Pangan

Patria juga menambahkan bahwa Godzilla/Super El Niño sudah seharusnya menjadi alarm serius bagi pemerintah Indonesia untuk segera memperkuat langkah mitigasi dan adaptasi krisis iklim, terutama melalui perlindungan ekosistem-ekosistem penting seperti hutan, gambut, karst, dan mangrove sebagai upaya pencegahan dampak El Niño di kawasan hulu.

Fenomena El Niño ekstrem tidak hanya mengancam sektor pertanian dan ketahanan pangan, tetapi juga memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak serius terhadap kesehatan publik. Hal tersebut sebagaimana pernah terjadi dalam tragedi karhutla besar tahun 1997 dan 2015 yang meninggalkan kerugian ekologis, sosial, dan ekonomi dalam skala luas.

“Bagi kami, dampak El Niño dapat memburuk selama pemerintah tetap membiarkan deforestasi, perusakan gambut, ekspansi tambang, dan perkebunan monokultur berlangsung, karena kerusakan kawasan hulu membuat alam kehilangan kemampuan menyimpan air dan memperbesar risiko kekeringan, gagal panen, krisis air bersih, serta karhutla. WALHI juga menilai pemerintah masih terjebak pada penanganan darurat tanpa menyentuh akar persoalan berupa model pembangunan ekstraktif, termasuk melalui kebijakan seperti Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dapat berisiko mengganggu siklus hidrologi dan menciptakan rasa aman semu dalam menghadapi krisis iklim,” kata Patria.

Untuk itu, alih-alih berfokus pada respons darurat, WALHI mendesak pemerintah untuk segera menghentikan izin-izin yang merusak kawasan hutan dan gambut, memperkuat perlindungan wilayah kelola rakyat, memastikan pemulihan ekosistem di daerah tangkapan air, serta membangun sistem mitigasi krisis iklim yang berpihak pada keselamatan warga.

“Tanpa perubahan arah kebijakan lingkungan dan pembangunan, Indonesia akan terus berada dalam kondisi rentan menghadapi bencana iklim yang semakin ekstrem akibat krisis iklim global,” tutup Patria.

Untuk informasi lebih lanjut:
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia
Jln Tegal Parang Utara Nomor 14, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan
email: [email protected] | instagram: @walhi.nasional | x: @walhi.nasional
TikTok: @walhi.nasional
Handphone: (+628115501980)