
Siaran Pers
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)
Jakarta, 18 Mei 2026. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengingatkan bahwa El Niño bukan sekadar soal cuaca ekstrem, tapi juga berkaitan dengan krisis sosial dan ekologis di wilayah pesisir dan kepulauan. Berdasarkan kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), El Niño dapat memicu fenomena upwelling—naiknya air laut dari dasar ke permukaan—yang berpotensi meningkatkan produktivitas perikanan. WALHI menyatakan bahwa lonjakan potensi ikan ini tidak bisa dilihat terpisah dari kerusakan ekosistem yang sedang terjadi.
“Dalam perspektif keadilan kelautan (blue justice), pertanyaan utamanya bukan hanya “ikan bertambah”, tetapi “siapa yang bisa mengaksesnya, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang malah tersingkir”. Kita tidak boleh terjebak pada anggapan bahwa laut akan otomatis menjadi penyelamat krisis pangan akibat El Niño. Tanpa tata kelola adil, fenomena ini justru berpotensi mendorong perampasan ruang hidup,” tegas Mida Saragih, Pengkampanye Perlindungan Pesisir dan Laut WALHI.
El Niño dapat memperkuat fenomena upwelling di wilayah selatan Jawa hingga barat Sumatra, yaitu penguatan upwelling berdampak pada meningkatnya suplai nutrien ke permukaan laut, dan mendorong pertumbuhan fitoplankton sebagai dasar rantai makanan laut. Sehingga meningkatkan produktivitas perairan dan potensi sumber daya ikan. Namun, peningkatan ini tidak otomatis dinikmati oleh masyarakat pesisir. Dalam praktiknya, wilayah penangkapan ikan justru lebih mudah diakses oleh armada industri yang memiliki teknologi, modal, dan izin. Sementara itu, ruang hidup masyarakat pesisir semakin tertekan akibat ekspansi berbagai industri berbasis sumber daya alam.
Mida menegaskan, “Kami meminta pemerintah menerbitkan rencana tapak untuk penyelamatan wilayah kepulauan. Secara spesifik, pesisir dan pulau kecil memiliki kerentanan ditandai dengan pasokan air, bahan pangan terbatas. Kerentanan ini sering diperparah oleh solusi semu, seperti proyek geotermal di kawasan konservasi atau revitalisasi perikanan yang justru merusak mangrove.”
Berdasarkan pantauan NOAA dan juga BRIN, El Niño dapat menyebabkan cuaca menjadi lebih panas dan kering. Namun, penting untuk dipahami bahwa akar utama bencana ekologis sebenarnya adalah eksploitasi sumber daya alam yang terus dilakukan atas nama pembangunan. Dampak El Niño berupa kenaikan suhu dan kekeringan hanya memperburuk kondisi yang sudah rentan tersebut.
Prakiraan terbaru menunjukkan bahwa El Niño berpotensi memperparah kekeringan, sehingga meningkatkan risiko gagal panen dan krisis air. Hal ini memicu kekhawatiran akan kenaikan suhu global hingga mencapai rekor baru, dengan dampak kemanusiaan yang signifikan.
Lihat juga, Godzilla El Niño 2026 Perparah Krisis Sampah dan Air Bersih di Kota
Saat ini, suhu permukaan laut di Pasifik sudah naik sekitar 0,5°C di atas normal—tanda awal El Niño. Dalam beberapa bulan ke depan, fenomena ini diperkirakan menguat dan berpotensi menjadi “super El Niño”. NOAA memperkirakan peluang kemunculannya mencapai 82% pada Mei–Juli 2026 dan 96% untuk berlanjut hingga awal 2027. Sejumlah model iklim global (NOAA, BoM, ECMWF) menunjukkan tren yang sama, dengan potensi kenaikan suhu lebih dari 1,5°C (kategori kuat), bahkan bisa melampaui 2–3°C. Jika ini terjadi, El Niño dapat mendorong tahun 2027 menjadi tahun terpanas dalam sejarah.
Sejumlah model iklim global (NOAA, BoM, ECMWF)[1] menunjukkan tren yang sama, dengan potensi kenaikan suhu lebih dari 1,5°C (kategori kuat), bahkan bisa melampaui 2–3,3°C. Jika ini terjadi, El Niño dapat mendorong tahun 2027 menjadi tahun terpanas dalam sejarah. Sementara itu, Biro Meteorologi Australia (BoM) mengamati bahwa suhu permukaan laut di Pasifik tropis bagian tengah terus meningkat secara bertahap, dan diperkirakan akan terus menghangat hingga mencapai kondisi El Niño dalam beberapa bulan ke depan.
Dampak dari El Niño kuat yakni potensi pemanasan tambahan di Pasifik timur akan meningkatkan suhu rata-rata global. Kemungkinan besar dunia akan mengalami suhu global tertinggi tahun depan. Di Indonesia, telah diidentifikasi peluang kekeringan yang dapat menurunkan produksi pertanian dan cadangan pangan.
“Kini, konsensus dari lembaga-lembaga iklim mengarah pada urgensi kesiapan menghadapi Super El Niño. Penghentian laju kerusakan, termasuk di kawasan rentan bencana, adalah syarat kesiapsiagaan. Strategi tingkat tapak: penyelamatan ekosistem mencakup mangrove, lamun dan terumbu karang—perlu digarap serius, diintegrasikan dan dijamin implementasinya lewat aturan daerah,” pungkas Mida.
Dalam perspektif keadilan kelautan (blue justice), WALHI mendorong pemerintah dan lembaga terkait untuk tidak memandang laut serta sumber daya ikan semata sebagai komoditas ekonomi, melainkan sebagai ruang hidup yang harus menjamin hak akses nelayan terhadap wilayah tangkap dan hak masyarakat atas pangan perikanan, termasuk ketika terjadi lonjakan stok ikan. WALHI juga menekankan pentingnya penyusunan rencana penyelamatan wilayah kepulauan melalui pemetaan daerah rawan bencana, krisis air, dan krisis pangan, serta memperluas rehabilitasi ekosistem mangrove dan terumbu karang yang terintegrasi dengan perencanaan pembangunan daerah.
Untuk informasi lebih lanjut:
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia
Jln Tegal Parang Utara Nomor 14, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan
email: [email protected] | instagram: @walhi.nasional | x: @walhi.nasional
TikTok: @walhi.nasional
Handphone: (+628115501980)
Catatan kaki:
Apa itu El Niño, seberapa sering terjadi dan berapa lama kejadiannya? El Niño adalah fenomena iklim besar yang terjadi karena interaksi antara laut dan atmosfer, terutama karena pemanasan berkala suhu permukaan laut di wilayah tengah hingga tengah‑timur Samudra Pasifik di sekitar ekuator. Ini merupakan fase hangat dari siklus El Niño/Oscilasi Selatan (ENSO), yang biasanya terjadi setiap 2–7 tahun dan berlangsung sekitar 9–12 bulan.
Mengapa penting mempertimbangkan prediksi El Niño? Prediksi El Niño penting karena membantu mengantisipasi dampak seperti banjir dan kekeringan, sehingga bisa mengurangi kerugian. Informasi ini juga mendukung perencanaan di sektor air, energi, transportasi, serta membantu petani dan nelayan menghadapi risiko.
_____
[1] ECMWF - European Centre for Medium-Range Weather Forecasts
BoM Australia - Bureau of Meteorology
NOAA - Oceanic and Atmospheric Administration