
Siaran Pers
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)
Jakarta, 7 Juni 2026– Di balik peringatan Hari Lingkungan Hidup yang tengah dirayakan di tengah realitas krisis iklim terus memburuk. Banjir rob menggerus kawasan pesisir, memaksa banyak warga kehilangan ruang hidupnya sedikit demi sedikit. Cuaca ekstrem semakin sering terjadi dan memukul petani serta nelayan yang bergantung pada pola musim yang kini kacau. Perayaan tahunan ini justru menegaskan kondisi yang kontras, dirayakan di tengah situasi krisis yang tidak terselesaikan terutama oleh negara.
Patria Rizky Ananda, Pengkampanye Iklim dan Isu Global, bahwa krisis ini adalah akibat langsung dari cara kita mengelola lingkungan. Pola pembangunan yang terus bertumpu pada ekstraksi sumber daya alam, secara tidak langsung telah melemahkan daya dukung ekosistem.
“Hutan dibuka, pesisir direklamasi, dan ruang hidup dikonversi tanpa mempertimbangkan keberlanjutan. Dampaknya bukan hanya dirasakan hari ini, tetapi terakumulasi menjadi beban ekologis yang diwariskan. Inilah inti persoalan hak antar generasi, generasi sekarang mengonsumsi sumber daya secara berlebihan, sementara generasi mendatang dipaksa menanggung kerusakannya,” jelas Patria.
Baca laporan kami, Deforestasi sistematis atas nama transisi energi di Indonesia
WALHI menghimpun data yang menunjukkan bahwa ancaman tersebut tengah menjadi ancaman serius. Sekitar 2.000 pulau kecil di Indonesia diproyeksikan berpotensi tenggelam pada tahun 2050, mengancam kehidupan sekitar 42 juta penduduk di wilayah pesisir rendah. Di sektor pangan, perubahan iklim diperkirakan menurunkan produksi beras sebesar 6% dan jagung hingga 14%, mengancam ketahanan pangan nasional. Sementara itu, lebih dari 34% populasi Indonesia diproyeksikan mengalami kelangkaan air pada tahun yang sama. Risiko kesehatan pun meningkat, dengan ancaman malnutrisi serta penyakit seperti diare dan malaria akibat perubahan ekosistem dan cuaca ekstrem. Semua ini akan paling dirasakan oleh generasi muda dan anak-anak yang hidup lebih lama di tengah krisis.
“Situasi ini mencerminkan ketidakadilan lintas generasi yang nyata. Generasi hari ini masih memiliki kesempatan mengakses sumber daya, sementara generasi mendatang menghadapi degradasi yang jauh lebih parah. Hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat menjadi semakin sulit dipenuhi. Bukan hanya soal kualitas udara atau air, tetapi juga hak atas masa depan yang layak: pekerjaan, pangan, kesehatan, dan keamanan dari bencana,” tegas Patria.
Lihat juga, Suara Orang Muda untuk Keadilan Iklim
Ironisnya, banyak pendekatan yang diklaim sebagai solusi justru memperdalam krisis. Proyek-proyek dengan label hijau berskala besar tetap merusak hutan, mengubah bentang alam, dan memicu konflik ruang hidup sebagai contoh proyek hilirisasi nikel untuk transisi energi. Pendekatan terus mempertahankan pola lama dengan kemasan baru. Transisi yang tidak adil hanya akan mempercepat penumpukan utang ekologis yang harus dibayar oleh generasi berikutnya.
Karena itu, kerusakan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari hak antar generasi. Setiap keputusan hari ini harus dilihat dampaknya terhadap mereka yang belum lahir. Generasi muda bukan hanya penerus, tetapi pemilik hak atas bumi yang sama. Hari Lingkungan Hidup seharusnya menjadi titik refleksi sekaligus peringatan keras. Krisis yang terjadi saat ini adalah warisan yang sedang dibentuk. Jika tidak segera berubah, dalam hal ini kebijakan, maka kita terus menimbun utang ekologis yang akan diwariskan secara tidak adil.
“Dan ketika saat itu tiba, generasi mendatanglah yang akan membayar harga paling mahal dari keputusan yang tidak pernah mereka buat,” tutup Patria.
Untuk informasi lebih lanjut:
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia
Jln Tegal Parang Utara Nomor 14, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan
email: [email protected] | instagram: @walhi.nasional | x: @walhi.nasional
TikTok: @walhi.nasional
Handphone: (+628115501980)