Hentikan Solusi Palsu: Wujudkan Transisi Energi Berkeadilan Urgensi Konferensi Santa Marta 2026

 

Catatan untuk Konferensi Santa Marta 2026

Penyelenggaraan Konferensi Santa Marta yang dijadwalkan pada 24 hingga 29 April 2026 di Santa Marta, Kolombia, menandai titik balik krusial dalam sejarah diplomasi iklim global. Konferensi ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan muncul sebagai respons terhadap kegagalan proses formal yang seringkali terjebak dalam birokrasi inkrementalisme atau birokrasi yang berfokus pada perbaikan sedikit demi sedikit atas kebijakan yang sudah ada, guna menghindari konflik besar dan meminimalkan risiko kesalahan (CAN Europe, 2026; CIEL, 2026)

Konferensi Santa Marta, yang diprakarsai oleh pemerintah Kolombia dan Belanda, dirancang sebagai sebuah kanal yang aman bagi koalisi negara-negara dan aktor non-pemerintah yang berambisi tinggi untuk merumuskan langkah konkret penghentian fosil di luar kerangka United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang sering kali terhambat konsensus. Pendekatan multilateralisme dua tingkat ini memungkinkan negara-negara seperti Kolombia untuk memimpin gelombang kedua penandatangan Deklarasi Belém, yang menegaskan komitmen global untuk transisi menjauh dari batu bara, minyak, dan gas bumi secara cepat, adil, dan berpusat pada manusia.

Bagi WALHI, momentum ini sangat krusial karena sektor energi menyumbang sekitar 74,5% dari emisi gas rumah kaca global pada tahun 2024, yang diperburuk oleh kontribusi metana sebesar 17,9% (European Parliament, 2026). Tanpa penghentian segera dari ekspansi fosil, target pembatasan suhu global akan tetap menjadi sekadar retorika politik (WALHI, 2025).

Dalam konteks tahun 2026, dunia sedang menghadapi krisis energi yang paling parah dalam sejarah modern, yang dipicu oleh konflik militer antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang meletus pada Februari 2026. Krisis ini, yang digambarkan oleh Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, sebagai guncangan yang melampaui gabungan krisis 1973, 1979, dan 2022, telah menelanjangi kerentanan struktural dari ketergantungan global pada bahan bakar fosil (IDDRI, 2026).

Bagi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), kehadiran dalam konferensi ini bukan sekadar menghadiri pertemuan internasional, melainkan sebuah mandat untuk menyuarakan urgensi penghentian total energi fosil yang selama ini menjadi akar dari krisis iklim dan bencana ekologis di tanah air (Republika, 2026).

Di tingkat nasional, Indonesia terus menghadapi dilema antara ketergantungan fiskal pada komoditas ekstraktif dan kebutuhan mendesak untuk melindungi rakyat dari dampak krisis iklim. Sektor energi fosil telah menjadi beban signifikan bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui subsidi yang besar, sementara dampak kesehatannya telah merenggut nyawa jutaan orang setiap tahunnya (Republika, 2026). Data menunjukkan bahwa polusi udara akibat pembakaran fosil menyebabkan sekitar 4,2 juta kematian prematur setiap tahun di seluruh dunia (European Parliament, 2026).

Di Indonesia, dominasi batu bara dalam bauran energi primer, yang mencapai 40,37% pada tahun 2024, terus melanggengkan pencemaran lingkungan dan memicu berbagai penyakit pernapasan (ISPA) bagi masyarakat di sekitar wilayah pertambangan dan pembangkitan (Mongabay, 2025a; Mongabay, 2025b). Partisipasi WALHI di Santa Marta bertujuan untuk menyuarakan bahwa transisi energi tidak hanya dilihat sebagai penggantian teknologi, tetapi sebagai transformasi sistemik yang harus mengedepankan kedaulatan rakyat dan pemulihan lingkungan (WALHI Jawa Timur, 2025; UNAIR, 2025).

Selengkapnya, silahkan unduh dokumen berikut:
Catatan untuk Konferensi Santa Marta 2026 (id)
Catatan untuk Konferensi Santa Marta 2026 (en)

 

Untuk informasi lebih lanjut:

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia,
Jln Tegal Parang Utara Nomor 14, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan
email: [email protected] | instagram: @walhi.nasional | x: @walhi.nasional
TikTok: @walhi.nasional
Handphone: (+628115501980)