First Conference Transition Away from Fossil Fuel Santa Marta, Kolombia: Transisi Energi Setengah Langkah

Catatan dari Konferensi Santa Marta 2026 
Wahyu Eka Styawan ([email protected])

Konferensi Santa Marta atau The First Conference on Transition Away from Fossil Fuel yang digelar di Kota Santa Marta, Magdalena, Kolombia pada 24-29 April 2026, tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah dan simboliknya. Kota ini menyimpan jejak panjang perjuangan pembebasan Amerika Latin. Di tempat ini, Simón Bolívar menghabiskan masa-masa terakhirnya setelah memimpin perjuangan melawan kolonialisme. Dalam waktu yang berbeda, kota ini juga menjadi bagian dari lanskap kultural yang melahirkan imajinasi besar Gabriel García Márquez, yang melalui karya seperti Love in the Time of Cholera menghadirkan realitas sosial-politik Amerika Latin dalam bentuk yang puitis sekaligus politis.

Di tengah sejarah itu, Santa Marta menjadi tempat di mana dunia hari ini berkumpul untuk membicarakan krisis yang berbeda, tetapi memiliki akar yang sama, yaitu krisis energi, krisis iklim, dan krisis ketidakadilan global. Konferensi ini dimaksudkan sebagai bagian dari upaya mendorong transisi dari energi fosil menuju energi terbarukan yang berkeadilan. Ia menjadi ruang lanjutan dari proses global yang mulai secara terbuka membicarakan penghentian bahan bakar fosil, meskipun dalam berbagai tingkat komitmen yang berbeda.

Namun, dalam forum yang dianggap penting ini, ketidakhadiran Indonesia menjadi catatan tersendiri. Tidak adanya delegasi resmi, bahkan dalam bentuk representasi diplomatik minimal, menunjukkan jarak antara retorika transisi energi dengan keterlibatan nyata dalam proses global. Dalam konteks ini, absensnya Indonesia mencerminkan posisi politik dalam merespons arah perubahan sistem energi dunia.

Konferensi Resmi: Transisi dalam Kerangka Kebijakan dan Ekonomi

Dalam ruang konferensi resmi, pembahasan mengenai penghentian bahan bakar fosil tidak berdiri sendiri sebagai agenda lingkungan semata. Diskusi berkembang ke arah bagaimana transisi ini harus diintegrasikan dalam kebijakan ekonomi nasional. Negara-negara yang hadir membicarakan bagaimana menyusun rencana jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada fosil, tetapi juga bagaimana proses transisi ini dapat menjaga stabilitas ekonomi domestik.

Salah satu isu yang berulang adalah kekhawatiran terhadap dampak fiskal. Bagi banyak negara, terutama yang bergantung pada ekspor energi fosil, penurunan produksi berarti penurunan pendapatan negara. Dalam situasi tersebut, transisi tidak hanya dipahami sebagai perubahan sistem energi, tetapi juga sebagai tantangan terhadap struktur ekonomi yang sudah lama terbentuk. Diskusi mengenai pembiayaan menjadi sangat dominan, dengan penekanan pada kebutuhan investasi besar untuk membangun infrastruktur energi terbarukan.

Selain itu, terdapat pembahasan mengenai hubungan perdagangan internasional. Perubahan dalam sistem energi global akan berdampak pada pola ekspor dan impor, serta posisi negara dalam rantai nilai global. Dalam konteks ini, transisi energi menjadi bagian dari dinamika ekonomi global yang lebih luas, bukan hanya persoalan teknis sektor energi.

Meskipun menghasilkan pernyataan bersama dan membuka proses lanjutan, konferensi ini tidak menghasilkan kesepakatan yang mengikat. Seluruh komitmen yang muncul bersifat sukarela, bergantung pada kesiapan dan kepentingan masing-masing negara.

People Summit: Ruang Gerakan dan Pertukaran Pengalaman

Di luar ruang resmi, dinamika yang lebih hidup justru berlangsung dalam People Summit yang digelar di Universidad Cooperativa de Colombia dan Universidad del Magdalena. Di ruang ini, berbagai gerakan dari seluruh dunia berkumpul untuk berbagi pengalaman dan membangun posisi bersama.

WALHI hadir dalam dua kapasitas sekaligus. Pertama, sebagai bagian dari Friends of the Earth International, sebuah federasi global yang menghubungkan organisasi lingkungan dari berbagai negara. Kedua, sebagai anggota Asian People’s Movement on Debt and Development, jaringan gerakan di Asia yang secara konsisten mengaitkan isu energi dengan persoalan utang dan pembangunan.

Dalam kerangka FOEI, pendekatan yang dibawa adalah Feminist Just Energy Transition, yang tidak hanya menempatkan energi sebagai isu teknis, tetapi juga sebagai persoalan relasi kuasa. Pendekatan ini menekankan pentingnya keadilan gender, pengakuan terhadap peran komunitas, serta perlunya transformasi sistem yang lebih luas, termasuk kedaulatan energi yang bertumpu pada komunitas. Sementara melalui APMDD, pembahasan banyak diarahkan pada penghentian berbagai solusi palsu, termasuk penggunaan gas sebagai alternatif minyak dan batu bara, juga membahas persoalan finasial global yang arahnya terus menuju pelanggengan energi fosil, termasuk upaya memasukkan solusi palsu sebagai solusi.

Diskusi dalam People Summit berlangsung dalam berbagai kelompok tematik, mencerminkan keragaman pengalaman dan perspektif. Perempuan, pemuda, masyarakat adat, komunitas Afro, petani, dan nelayan membawa cerita masing-masing tentang bagaimana krisis energi dan iklim memengaruhi kehidupan mereka. Percakapan yang terjadi tidak hanya berbentuk pertukaran informasi, tetapi juga proses membangun pemahaman bersama tentang akar persoalan yang dihadapi.

Dari proses tersebut, dihasilkan sebuah deklarasi yang menegaskan tuntutan gerakan. Deklarasi ini menyuarakan penghentian total bahan bakar fosil, penolakan terhadap berbagai pendekatan yang dianggap tidak menyelesaikan masalah, serta pentingnya memastikan bahwa transisi dilakukan dengan mempertimbangkan keadilan bagi komunitas terdampak. Ia juga menegaskan bahwa pendanaan untuk transisi harus berbasis publik dan tidak memperdalam ketimpangan global.

People Assembly dan Long March

Setelah People Summit, diselenggarakan People Assembly pada 27 April 2026, sebagai bagian dari rangkaian resmi konferensi. Secara formal, forum ini dimaksudkan sebagai ruang untuk menyampaikan suara masyarakat sipil ke dalam proses antarnegara. Namun dalam pelaksanaannya, ruang partisipasi yang tersedia sangat terbatas.

Tidak semua organisasi yang hadir dalam People Summit dapat terlibat dalam forum ini. Beberapa jaringan besar, termasuk yang memiliki pengalaman panjang dalam isu energi dan keadilan global, tidak mendapatkan akses yang memadai. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun partisipasi diakui secara formal, dalam praktiknya masih terdapat batasan yang signifikan.

Keterbatasan ini berdampak pada representasi suara yang masuk ke dalam proses resmi. Dalam konteks global, terutama bagi organisasi dari Global South, akses terhadap ruang-ruang seperti ini menjadi penting untuk memastikan bahwa perspektif yang dibawa tidak terpinggirkan.

Pada saat yang sama, saat People Assembly digelar, delegasi organisasi yang datang dari setiap negara juga menggelar long march. Aksi ini menjadi ruang di mana berbagai isu bertemu dalam satu ekspresi kolektif. Poster dan spanduk yang dibawa mencerminkan beragam tuntutan, mulai dari keadilan energi hingga kesetaraan gender.

Dalam aksi ini, isu energi tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan berbagai persoalan global lainnya, termasuk konflik dan ketegangan geopolitik. Seruan solidaritas terhadap Palestina, Kuba, Iran, dan negara-negara lain yang mengalami tekanan menjadi bagian dari narasi yang muncul. Di sini, transisi energi dipahami sebagai bagian dari perjuangan yang lebih luas, yang mencakup keadilan, perdamaian, dan penolakan terhadap dominasi kekuatan besar.

Catatan Kritis WALHI

Puncak konferensi berlangsung dalam High Level Summit pada 28–29 April 2026. Forum ini mempertemukan perwakilan negara dalam diskusi tingkat tinggi mengenai arah transisi energi global. Namun, akses terhadap forum ini sangat terbatas. Tidak semua delegasi dapat hadir secara langsung, dan sebagian besar hanya dapat mengikuti melalui siaran daring.

Dalam forum ini, pembahasan berfokus pada penyusunan rencana transisi nasional, kebutuhan pembiayaan, serta koordinasi kebijakan antarnegara. Diskusi juga mencakup hubungan antara transisi energi dan stabilitas ekonomi global. Meskipun demikian, tidak semua isu yang berkembang dalam People Summit maupun aksi masyarakat sipil mendapatkan ruang yang setara dalam pembahasan ini.

Dari keseluruhan rangkaian konferensi, terdapat sejumlah catatan yang muncul. Konferensi ini menunjukkan adanya upaya untuk membahas penghentian bahan bakar fosil, namun pada saat yang sama masih menghadapi berbagai keterbatasan. Salah satu hal yang terlihat adalah belum sepenuhnya terbukanya ruang partisipasi bagi masyarakat sipil, khususnya dari Global South.

Selain itu, pembahasan yang dominan pada aspek pembiayaan menunjukkan bahwa pendekatan yang digunakan masih sangat berfokus pada kerangka ekonomi. Dalam beberapa kasus, hal ini membuka ruang bagi pendekatan yang masih diperdebatkan, termasuk penggunaan teknologi atau sumber energi yang tetap bergantung pada ekstraksi sumber daya alam. Salah satunya tentang bagaimana menyikapi persoalan mineral kritis, penggunaan nuklir dan mekanisme CCS serta solusi palsu lainnya.

Di sisi lain, tuntutan yang telah lama disuarakan oleh rakyat dalam berbagai gerakan secara global belum sepenuhnya tercermin dalam proses resmi. Hal ini menunjukkan adanya jarak antara dinamika gerakan, tuntutan suara komunitas yang menjadi korban energi fosil serta transisi energi dan arah kebijakan yang sedang dibahas.

Selain itu, pembagian pembahasan dalam ruang People Assembly dalam sektor-sektor tematik juga menghadirkan tantangan tersendiri. Meskipun memberikan ruang bagi diskusi yang lebih spesifik, pendekatan ini juga berpotensi membatasi keterhubungan antar isu yang sebenarnya saling terkait. Pengalaman di Santa Marta menunjukkan bahwa transisi energi adalah proses yang kompleks, melibatkan berbagai aktor dengan kepentingan yang berbeda. Di tengah kompleksitas tersebut, keterhubungan antar gerakan menjadi hal yang penting.

Ke depan, upaya untuk memperkuat hubungan antara gerakan di tingkat lokal, nasional, dan global menjadi kunci. Hal ini tidak hanya untuk memastikan bahwa suara komunitas terdampak didengar, tetapi juga untuk membangun kekuatan bersama dalam mendorong perubahan yang lebih luas. Transisi energi, dalam konteks ini, tidak hanya soal perubahan sumber energi, tetapi juga tentang bagaimana sistem yang lebih adil dapat dibangun melalui proses tersebut.