
Siaran Pers
WALHI JAMBI & JARINGAN KOMUNITAS
Unduh naskah deklarasi.
Jambi, Minggu, 26 April 2026 - Dalam rangka peringatan Hari Bumi dengan tema “Ajum Arah: Urban Climate Action”, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jambi bersama jaringan komunitas dan pecinta alam mendeklarasikan pembentukan Desk Disaster WALHI Region Jambi sekaligus menyampaikan sikap kolektif komunitas atas krisis ekologis yang semakin nyata di Provinsi Jambi.
Momentum ini menjadi penegasan bahwa bencana yang selama ini kerap disebut sebagai “bencana alam” sesungguhnya merupakan bencana ekologis yang mana hasil dari tata kelola sumber daya alam yang eksploitatif dan kebijakan yang mengabaikan keselamatan rakyat.

Deklarasi Desk Disaster WALHI Region Jambi dibacakan oleh Narizki Andri, yang menegaskan bahwa narasi “bencana alam” telah lama digunakan untuk menyederhanakan persoalan sekaligus menutupi akar masalah. Dalam deklarasi tersebut ditegaskan bahwa krisis ekologis adalah konsekuensi dari pilihan pembangunan yang harus segera dikoreksi.
Desk Disaster ini diinisiasi pecinta alam sebagai ruang bersama untuk memperkuat kesiapsiagaan berbasis komunitas, mendorong respons cepat yang berpihak pada masyarakat terdampak, serta memastikan proses pemulihan berjalan secara adil dan partisipatif. Rakyat bukan sekadar korban, melainkan subjek utama yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam menjaga serta memulihkan ruang hidupnya.
Pada kesempatan yang sama, sikap kolektif komunitas yang dibacakan oleh Salva memperluas konteks krisis ekologis yang dihadapi Jambi, khususnya dalam lanskap perkotaan. Komunitas menilai bahwa krisis ini bersifat struktural, ditandai oleh deforestasi, ekspansi perkebunan, kerusakan gambut, penurunan kualitas sungai, hingga meningkatnya risiko bencana seperti banjir dan kekeringan.
Dalam konteks urban climate action, komunitas juga menyoroti dampak langsung yang dirasakan warga kota, meningkatnya paparan radiasi akibat perubahan iklim, polusi udara dari emisi kendaraan, ancaman keselamatan akibat aktivitas angkutan batu bara, serta minimnya infrastruktur ramah lingkungan seperti jalur sepeda. Rendahnya komitmen kampanye gaya hidup rendah emisi dan minimnya dukungan kebijakan publik dinilai memperparah krisis di ruang-ruang kota.
Lebih jauh, komunitas menegaskan bahwa ketergantungan ekonomi pada ekstraksi sumber daya alam telah menciptakan ketimpangan, keuntungan terkonsentrasi, sementara dampak ekologis ditanggung oleh rakyat. Kelompok rentan seperti petani kecil, masyarakat adat, dan warga di sekitar wilayah terdampak menjadi pihak yang paling merasakan konsekuensinya.
Oscar Anugrah, Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jambi dalam pernyataannya menegaskan, “Peringatan Hari Bumi tidak boleh berhenti pada seremoni. Krisis ekologis di Jambi, termasuk di wilayah perkotaan, adalah bukti bahwa arah pembangunan kita masih keliru. Tema Urban Climate Action harus dimaknai sebagai dorongan nyata untuk mengubah kebijakan, memperbaiki tata kelola, dan memastikan keselamatan rakyat menjadi prioritas. Desk Disaster ini adalah langkah konkret untuk memperkuat peran warga sebagai subjek utama dalam menghadapi krisis dan bencana sekaligus menuntut tanggung jawab negara.”
“Sebagai langkah ke depan, WALHI Jambi dan jaringan komunitas mendorong agenda perubahan yang menyentuh akar persoalan, di antaranya moratorium pembukaan hutan dan gambut, restorasi DAS Batanghari, penegakan hukum tanpa tebang pilih, transparansi perizinan, penyelesian masalah perkotaan, serta penguatan peran komunitas dan pemuda dalam menjaga lingkungan.” Tegasnya.
“Deklarasi dan sikap kolektif ini menjadi penegasan bersama bahwa keselamatan rakyat harus menjadi prioritas utama, keadilan ekologis sebagai arah perjuangan, dan perbaikan sistem sebagai keharusan yang tidak bisa ditunda.” Tambah Oscar.
Salam adil dan lestari
Pulihkan Jambi, Pulihkan Indonesia
Narahubung:
Oscar Anugrah- Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jambi: 0811-7492-662