WALHI Dukung Jakarta Miliki ITF

Share

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pemerhati lingkungan, Wahana LingkUngan Hidup (WALHI) menyatakan, dukungannya terhadap rencana pembangunan tiga intermediate treatment facility (ITF) atau tempat pembuangan sampah dalam kota di Jakarta. Sebab, pengolahan sampah bukan lagi menjadi tanggung jawab daerah penyangga, melainkan menjadi kewajiban setiap pemerintah daerah di Indonesia.

Direktur Eksekutif WALHI DKI Jakarta, Ubaidillah mengatakan, sudah saatnya pengolahan sampah di Jakarta tidak lagi dilimpahkan ke daerah penyangga yang ada di sekitarnya. “Bagaimanapun juga, Pemprov DKI harus mengurus persoalan sampahnya sendiri. Perhitungan kami, dari efisiensi dan efektifitas, pengolahan sampah dalam kota lebih baik daripada membangun di luar kota Jakarta,” ujar Ubaidillah kepada beritajakarta.com, Jakarta, Rabu (7/12).

Ketika mendapati adanya program pembangunan tiga ITF beserta sentra 3 R (recycle, reduce dan reuse), pihaknya menyatakan dukungan dan akan memberikan kontribusi dengan melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap pelaksanaan ITF tersebut. Hal itu dilakukan karena WALHI menginginkan kemajuan pengolahan persampahan di DKI Jakarta.

“Kami sudah memberikan surat dukungan tersebut per tanggal 14 November 2011 kepada Dinas Kebersihan DKI. Ini merupakan terobosan yang memiliki nilai sangat tinggi. Sebab hingga saat ini, Indonesia belum memiliki ITF seperti negara-negara di ASEAN lainnya,” katanya.

Mengenai proses lelang investasi yang saat ini tengah berlangsung, dikatakan Ubaidillah, langkah tersebut merupakan cerminan Pemprov DKI telah mampu mengolah sampah di dalam kota. Sehingga pembangunan ITF di Jakarta ini mampu menjadi barometer bagi daerah lain.

WALHI menginginkan dalam penerapan pengolahan sampah di dalam kota berbasis ITF, Dinas Kebersihan DKI mampu menggunakan teknologi yang dapat meminimalisir segala bentuk permasalahan pencemaran lingkungan akibat sampah. Artinya, teknologi yang digunakan harus ramah lingkungan, yaitu mampu mengurai sampah hingga tidak ada sisanya atau zero waste.

Sedangkan dari konsep pembangunan ITF Sunter, Ubaidillah menilai, teknologi incenarator yang digunakan sudah lebih baik dan mendukung teknologi ramah lingkungan. Lebih baik dari teknologi yang digunakan di TPST Bantargebang yaitu open dumping dan sanitary landfill.

Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Eko Bharuna membenarkan, pihaknya telah menerima surat dukungan dari WALHI terhadap pembangunan ITF Cakung Cilincing, ITF Sunter, dan ITF Marunda. “Bahkan, WALHI akan mengirimkan utusan untuk memantau dan mengawasi guna memberikan masukan konstruktif agar berkelanjutan dalam pengolahan sampah di kota Jakarta,” ujarnya.

Dengan adanya tiga ITF nanti di DKI Jakarta, jelas Eko, maka akan menghemat biaya transprotasi pengangkutan sampah ke TPST Bantargebang. Selama ini, biaya transportasi ke TPST Bantargebang antara Rp 160 ribu hingga Rp 180 ribu per ton. Selama ini, volume sampah yang ditampung TPST Bantargebang mencapai 6 ribu ton per hari. Sedangkan dengan adanya tiga ITF yang mampu menampung sekitar 3 ribu ton per hari, maka volume sampah di TPST Bantargebang akan berkuran 50 persennya. Artinya, biaya transportasi pengangkutan sampah pun akan berkurang sebanyak 50 persen.

Dengan begitu, kita bisa mengurangi alokasi anggaran transportasi pengangkutan sampah. Artinya, kita bisa meringankan beban anggaran dalam APBD DKI,” katanya

Add comment


Security code
Refresh