WALHI Kritisi Rekomendasi Komite Transisi Green Climate Fund Pada COP 17

Share

Jakarta (1/ 12) – WALHI mengecam keras butir rekomendasi komite transisi Green Climate Fund yang mengakomodir kepentingan industri kotor negara maju serta lembaga keuangan internasional untuk terus mempolusi bumi.

Muhammad Teguh Surya selaku Kepala Departemen Hubungan Internasional WALHI menjelaskan “Butir rekomendasi yang dikecam tersebut adalah, pertama adanya dua peninjau aktif dari korporasi (private sector), sementara tidak ada peninjau aktif dari masyarakat adat, komunitas rentan dan perempuan. Kedua dana iklim diperbolehkan untuk mendukung teknologi Carbon Capture Storage yang akan melegalisasi penggunaan batu bara sebagai pembangkit listrik masa depan. Ketiga, penyaluran dana iklim membenarkan sistim pinjaman lunak atau biasa disebut dengan mekanisme utang luar negeri. Dan yang keempat, memberi ruang keterlibatan lembaga keuangan internasional dan swasta untuk membiayai proyek iklim. Rekomendasi tersebut diatas sangat kental dengan kepentingan korporasi dan agenda kapitalisme global yang selama ini mempolusi dan merusak bumi, sehingga harus ditolak dan diganti dengan rekomendasi yang lebih mengutamakan keselamatan rakyat” paparnya tegas.

WALHI juga mendesak Amerika Serikat dan Bank dunia untiuk berhenti melakukan intervensi dan maneuver politik yang menghambat pencapaian resolusi iklim yang berkeadilan dan mengutamakan keselamatan rakyat. Untuk itu Delegasi WALHI yang berada di Durban akan berjuang bersama dengan delegasi negara-negara miskin (Least developed country) dan negara-negara kepulauan kecil (AOSIS) untuk memastikan negara industry bertanggungjawab penuh untuk wajib menurunkan emisi secara domestic berdasarkan tanggungjawab historis dan terikat secara hokum dibawah Protokol Kyoto periode kedua, memprioritaskan adaptasi bagi negara berkembang termasuk dukungan pendanaan dan transfer teknologi. (selesai)

Untuk Catatan Editor;

Carbon Capture Storage (CSS) : Teknologi ini menangkap emisi gas rumah kaca dari pembangkit listrik seperti batu bara dan mengirimnya ke tempat penyimpanan limbah karbon. CCS akan berdampak buruk bagi lingkungan karena membutuhkan air 90% lebih banyak dibanding pembangkit tradisionil. CCS adalah kedok untuk meningkatkan permintaan batubara dan abaikan dampak negatif  pengerukannya terhadap lingkungan dan lahirnya pelanggaran HAM di sekitar daerah tambang. CCS tak bisa menyimpan sampah karbon selamanya, sehingga beresiko bagi generasi selanjutnya.  (sumber; http://www.rullysyumanda.org/geopolitics/476-menggugat-jepang-pemilik-saham-a-pengambil-keuntungan-terbesar-adb.html)

Kontak :

COP 17 Media Center – WALHI
1.Muhammad Teguh Surya (0811 820 4362)
2.Dedi Ratih (0812 5080 7757)

Add comment


Security code
Refresh