| Share |
YOGYAKARTA – Kesadaran warga Kota Yogyakarta dalam mengelola pembuangan limbah sanitasi rumah tangga dinilai masih rendah.
Hal itu membuat kandungan bakteri e-coli di sumur-sumur warga berada di atas ambang batas normal. Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta mencatat, masih banyak warga yang tidak menguras septic tank sebagai tempat pembuangan fesesnya. Akhirnya feses terendap di tampungan dan sangat berbahaya bagi lingkungan, terutama pencemaran bakteri e-coli.
”Kalau ada yang bilang (septic tank) tidak perlu dibersihkan karena dari zaman simbah, WC saya ndak pernah mbludak,itu justru berbahaya. Septic tank harus dikuras beberapa tahun sekali, tergantung kapasitasnya dan jumlah anggota keluarga,” kata Kepala BLH Kota Yogyakarta Suyana kemarin. Sosialisasi pembuatan septic tank,dilakukan dengan memanfaatkan pengajuan Izin Mendirikan Bangun Bangunan (IMBB). Setiap rumah yang akan dibangun harus menyertakan rencana pembangunan septic tank untuk menampung limbah. Solusi lain yang digalakkan adalah pembuatan sumur resapan di lahan-lahan terbuka yang ada di permukiman.
Kegiatan tersebut dinilai mampu mencairkan tanah sehingga dapat mengurangi kandungan e-coli. Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) DIY Suparlan mengatakan, akibat kandungan e-coli tersebut, diprediksikan 5–10 tahun ke depan Yogyakarta akan mengalami krisis air.Hal tersebut dikarenakan pencemaran di tanah permukaan yang saat ini terjadi akan mampu merambah tanah lapisan bawah. maha deva
Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/467224/37/
